Puisi2
“MATI BERSAMA SEPOTONG CINTA”
mati bersama sepotong cinta
inilah selembar puisi untuknya
yang kutulis dengan menggenggam belati penantian
mengarah untuk menghujamkannya pada sepiku
hingga aku mati
aku tulis puisi ini dengan darah dan air mata
seirama lantunan suara hati yang sedang menangis
pada puncak ekstase bahagianya bersama bunga lain
hingga aku sedikitpun tak kuasa lagi merangkai kata
lewat selembar puisi ini
aku pinta pada kalian semua
sampaikan salam rindu dan CINTAKU padanya
sebab aku hanyalah setangkai mawar layu
yang pernah hidup tersiram luka
jika nanti aku telah mati dalam penantian
bersama sepotong CINTA
tolong usap nisanku
sebab di sana terukir sebuah nama
hanya sebuah nama
yang telah mengubur, mendustakan potongan lain dari CINTAKU
lewat selembar puisi ini
aku bertanya
tahukah kalian tentang nama itu ?
dialah nama yang kan terus meraja
menggema di lubuk hati
memancarkan semilir kesejukan padanya
walau kini telah meredup
memudar dan menjemput mati
nama itu adalah nama yang sedang mengiris nadiku
segera memutusnya perlahan dalam rintihan tangisnya
tangis berjibaku rindu dengan bisikan desahan nafsu
merangsang menjilat liar pada alam imajinasi tentang serpihan masa lalu
di sini aku termangu sendiri di bibir sumur tua
menunggu keranda kesturi berkedip mata kepadaku
walau aku tak sanggup sebenarnya
sebab jiwa masih bersemayam dalam lumpur dosa
tertawa mengangkangi teriakan-teriakan perih
karena kelaparan, karena kedahaan pun karena kemiskinan
jika keranda kesturi harus membelaiku ke ujung dermaga
izinkan aku menitip secarik aksara suciku pada kalian
aksara yang bercerita tentang genta pengorbanan
aksara yang berkisah tentang esensi nyanyian lagu cinta
selipkan aksara itu dihatinya dalam-dalam agar ia hidup
lalu segera kabarkan padanya
bahwa aku sedang berlantun syair CINTA di pinggir telaga
bersanding sepotong CINTA darinya